This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Bencana Alam. Show all posts
Showing posts with label Bencana Alam. Show all posts

Tuesday, March 22, 2011

viva news berita terbaru : Jepang Tsunami, Bagaimana Nasib Global Bond?

Pemerintah Indonesia optimistis penerbitan surat utang global (global bond) masih tetap berjalan sesuai jadwal, walaupun kondisi perekonomian Jepang saat ini tengah mengalami perlambatan. Selama ini, investor asal Jepang termasuk salah satu penyerap surat utang Indonesia.

"Ya, sekarang pasarnya lumayan, tapi kan kondisi Jepang ini membuat investor wait and see," kata Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Selasa, 22 Maret 2011.

Untuk diketahui, pemerintah bakal menutup kekurangan pendanaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp124,65 triliun melalui penerbitan tiga jenis surat utang negara. Selain global bond, Kemenkeu bakal menerbitkan sukuk global dan Samurai Bond. Kementerian Keuangan telah menunjuk tiga perusahaan sekuritas asing yang akan menjadi penjamin emisi (underwriter) penerbitan surat utang global pemerintah Indonesia pada 2011. Tiga perusahaan sekuritas itu adalah JP Morgan, UBS, dan Deutsche Bank.

Menurut Bambang, tingkat imbal hasil (yeild) dari surat utang saat ini memang sedang menarik. Namun, pemerintah juga perlu memperhatikan faktor kemampuan penyerapan dari investor yang saat ini tengah disibukkan dengan sentimen negatif tsunami dan kekhawatiran radiasi nuklir di Jepang.

"Kami tidak mungkin mau masuk ke pasar dengan kondisi yang sedang bearish," katanya.

Disinggung mengenai rencana pemerintah Filipina yang tetap menerbitkan global bond senilai US$1,5 miliar, Bambang menyatakan Indonesia memiliki pangsa pasar sendiri dalam hal penyerapan surat utang global. Pemerintah tidak merasa khawatir terhadap adanya persaingan memperebutkan investor luar negeri.

"Kita kan punya pasar sendiri. Lagipula Jepang kan turun rating-nya. Kita justru dalam kondisi naik," jelas Bambang.

Dia menambahkan, keputusan Filipina tersebut juga lebih karena kondisi anggaran negaranya yang tengah berada dalam tekanan, sehingga harus segera menerbitkan surat utang. "Mereka harus segera mengeluarkan surat utang, kalau tidak budget-nya akan bleeding," ujar Bambang.

Sebelumnya, Kemenkeu juga sudah menggelar non deal roadshow untuk mengetahui kondisi pasar terkait rencana penerbitan global bond. Tiga negara yang dijadikan rujukan untuk menilai persepsi pasar adalah Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat.

Tsunami Jepang Ribuan Orang Tewas


Tokyo - Korban tewas gempa dan tsunami Jepang hingga hari Minggu (20/3/2011) mencapai 8.133 orang. Sementara korban hilang mencapai 12.272 orang.

Demikian menurut pejabat Kepolisian Jepang seperti diberitakan Kantor Berita Kyodo yang dilansir dari Reuters, hari ini. Sebelumnya, polisi juga mengkhawatirkan bahwa korban tewas bisa mencapai 15 ribu orang di Prefektur Miyagi saja.

Sementara mengenai radiasi di PLTN Fukushima Daiichi (Fukushima Nomor 1) dilaporkan sudah jauh menurun. Operator Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Company (TEPCO) seperti dilansir dari NHK, hari ini menyatakan radiasi menurun sejak reaktor unit 3 disiram air pada Sabtu sore.

TEPCO menjelaskan bahwa radiasi dari kantor pusat PLTN, 500 meter dari Timur Laut reaktor unit 3 menurun menjadi 2.625 mikrosievert per jam per pukul 08.30 waktu setempat hari ini. Jumlah tersebut menurun sebanyak 800 mikrosievert pada 18 jam sebelumnya, saat reaktor mulai disiram air.

Monday, March 14, 2011

Korban Tewas Tsunami Jepang Diperkirakan 10 Ribu Orang

 
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Sendai, Jepang, terus bertambah. Polisi setempat memperkirakan di Distrik Miyagi saja lebih dari 10 ribu orang tewas akibat gempa 9,0 skala Richter, yang disusul tsunami dahsyat itu. Distrik Miyagi adalah daerah yang paling parah terkena tsunami. "Saya tidak ragu jumlah korban akan meningkat sebesar itu," kata Kepala Kepolisian Miyagi, Naoto Takeuchi, kemarin.
Hingga Minggu, data resmi kepolisian Jepang menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 977 orang dan 739 orang hilang. "Saya meminta upaya maksimum untuk menyelamatkan jiwa sebanyak mungkin," kata Perdana Menteri Jepang Naoto Kan dalam rapat kabinet.

Naoto Kan mengerahkan 100 ribu personel pasukan pertahanan diri ke wilayah yang tersapu tsunami di sekitar Sendai untuk mencari dan menyelamatkan korban. Menurut Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa, sekitar 190 pesawat dan 45 kapal dikerahkan untuk mengangkut bantuan makanan dan korban luka-luka.

Sedikitnya dua juta keluarga hidup tanpa air bersih dan listrik di negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu. "Gempa bumi, tsunami, dan ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir telah menjadi krisis terbesar yang dihadapi Jepang dalam 65 tahun sejak akhir Perang Dunia II," kata Naoto Kan. Kantor Meteorologi Jepang kemarin mencabut peringatan tsunami di 12 distrik di Jepang yang berada di wilayah pantai Pasifik.

Namun ancaman belum berakhir. Ancaman baru datang dari pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, 240 kilometer sebelah utara Tokyo. Gedung pembangkit ke-2 berisiko meledak setelah ledakan yang terjadi di pembangkit ke-1 pada Sabtu lalu.

Pemerintah Jepang menyatakan kebocoran di dalam pembangkit listrik bisa saja terjadi. Sebab, menurut Tokyo Electric Power Co, yang mengoperasikan pembangkit listrik, tingkat radiasi di sekitar pembangkit listrik meningkat di atas batas aman. Sekretaris Kabinet Yukio Edano mengatakan para pekerja berusaha memompa air laut ke tiga pembangkit untuk menurunkan suhunya akibat radiasi.

Pemerintah Jepang memerintahkan warga yang tinggal di radius 20 kilometer dari pembangkit listrik dievakuasi ke tempat aman. Hingga kemarin, sekitar 140 ribu orang telah dievakuasi dari wilayah yang dekat dengan zona radiasi.

Seorang pejabat Jepang mengatakan, ketika radiasi meningkat, ada 190 orang yang berada dalam radius 10 kilometer dari pembangkit listrik dan 22 orang dipastikan terpapar radiasi. Para pekerja yang mengenakan pakaian pelindung terus memindai warga yang tiba di tempat evakuasi.

Ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima ini adalah yang terbesar setelah ledakan di Chernobyl, Ukraina, pada 1986.

Reaktor Nuklir Jepang Kembali Meledak



Sebuah ledakan baru mengguncang kompleks reaktor nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, yang mengirimkan kepulan asap ke udara, Senin.

Badan keselamatan nuklir Jepang mengatakan pihaknya tidak dapat mengkonfirmasi apakah ledakan hidrogen pada reaktor nomor 3 itu telah menyebabkan kebocoran radioaktif yang tidak terkendali.

Operator sebelumnya menghentikan injeksi air laut ke dalam reaktor, yang menyebabkan kenaikan tingkat radiasi dan tekanan. Pemerintah telah memperingatkan bahwa ledakan itu mungkin karena penumpukan hidrogen di bangunan reaktor.

Sebelumnya Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan situasi di reaktor nuklir yang rusak dihantam gempa masih mencemaskan dan pihak berwenang melakukan yang terbaik untuk mencegah kerusakan menyebar.Jepang hari Senin berjuang mencegah bencana nuklir dan merawat jutaan orang tanpa air menyusul krisis terburuk sejak Perang Dunia Dua setelah gempa dan tsunami, yang diperkirakan menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Desa-desa dan kota-kota di Jepang telah terhapus dari peta oleh terjangan dinding air.

"Gempa bumi, tsunami dan kecelakaan nuklir telah menjadi krisis terbesar yang dialami Jepang dalam 65 tahun sejak akhir Perang Dunia II," kata Kan. "Kami sedang diawasi apakah kami, orang-orang Jepang, dapat mengatasi krisis ini," tambahnya.

Pejabat telah mengkonfirmasi tiga reaktor nuklir di utara Tokyo berada pada risiko memanas (overheating), menimbulkan kekhawatiran kebocoran radiasi yang tidak terkendali.

Saat Kan berbicara, insinyur bekerja mati-matian untuk mendinginkan reaktor yang bermasalah. Jika mereka gagal, wadah dari inti reaktor bisa mencair, atau bahkan meledak, melepaskan bahan radioaktif ke atmosfer.

Kan juga mengatakan negara terbesar ketiga itu menghadapi pemadaman listrik bergilir ketika dibuka kembali untuk bisnis pada hari Senin.

Rata-rata saham Nikkei turun 5 persen segera setelah pasar keuangan Tokyo dibuka pada hari Senin.

NHK, mengutip seorang pejabat polisi, mengatakan lebih dari 10.000 orang telah tewas saat dinding air yang dipicu oleh gempa berkekuatan 8,9 skala Richter hari Jumat melewati garis pantai, mengubah seluruh kota-kota menjadi puing-puing.

"Saya berharap masih ada yang selamat," kata Masaru Kudo, seorang tentara yang dikirim ke Rikuzentakata, sebuah kota yang hampir rata dengan penduduk 24.500 orang di Prefektur Iwate.

Kantor berita Kyodo mengatakan 80 ribu orang telah dievakuasi dari radius 20 km sekitar pabrik nuklir bermasalah. Mereka bergabung dengan lebih dari 450 ribu pengungsi lainnya di timur laut pulau Honshu.

Hampir 2 juta rumah tanpa listrik di wilayah utara yang membeku, kata pemerintah. Sementara ada sekitar 1,4 juta orang tanpa air yang mengalir.

Waspadai Hujan Asam di Jepang


JAKARTA - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang mengingatkan kepada seluruh WNI, untuk mengantisipasi adanya hujan asam.

Kondisi ini menyusul adanya ledakan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima, Jepang, beberapa saat lalu. "Kemungkinan hujan asam persiapkan jaket dan payung," demikian informasi KBRI Jepang, seperti dikutip Sabtu (12/3/2011).

Seperti diberitakan sebelumnya, telah terjadi ledakan di PLTN Fukushima. Reaktor itu dikhawatirkan mencair, setelah adanya kegagalan sistem pendingin semenjak diterpa gempa kuat dan tsunami. Pejabat setempat mengatakan beberapa pekerja mungkin terluka.

Rekaman di TV Jepang menunjukkan bahwa dinding satu bangunan telah hancur, hanya menyisakan bingkai rangka logam dan uap radioaktif.(rhs)

Jepang Menangis Diguncang Gempa Adakah yang tertawa ?


TOKYO - Cobaan datang bertubi-tubi di Jepang. Mulai dari digocang gempa bumi, dihantam tsunami. Yang terbaru ancaman bencana nuklir menyusul ledakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima. Musibah itupun membuat trauma bagi warga Sakura.

Salah seorang istri korban luka dalam insiden ledakan reaktor Fukushima, Jany Eudy, mengaku ketakutan saat mendengar suara ledakan dari arah PLTN.

”Bagi saya, itu (suara ledakan) bagai neraka di atas bumi,” katanya kepada CNN, Minggu (13/2/2011).

Janie, suaminya, dan sejumlah warga lain mengaku ingin segera menjauh dari kawasan fasilitas nuklir karena takut dampak radiasi kian luas. Apalagi, kabar tentang ledakan di PLTN Fukushima telah menjadi sorotan media berbagai negara. Terpaan media semakin membuat warga ketakutan.

Karena panik dan kurangnya informasi, publik lantas mengaitkan insiden ledakan Fukushima dengan bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah dunia, Chernobyl.

Petaka nuklir Chernobyl 1986 maupun Three Mile Island 1979 menjadi momok menyusul ledakan reaktor nuklir Fukushima.

Persepsi itu tidak salah. Namun, ada baiknya masyarakat menyimak paparan beberapa ilmuwan. Karena ilmuwan memiliki paparan berupa bukti, perhitungan angka, dan pengukuran secara ilmiah.(rhs)

Jepang Sudah Tahu Akan Ada Bencana Sejak 2010


JAKARTA - Bencana mahadahsyat di Jepang berupa gempa 8,9 SR dan tsunami hingga 10 meter, ternyata sudah diketahui oleh Pemerintah Jepang jauh-jauh hari. Begitu juga dengan bagaimana cara mengantisipasi dan menghadapi musibah yang mematikan tersebut.

"Pemerintah di sini sangat tanggap. Kami di sini sudah diperingatkan sejak tahun lalu, bahwa akan ada gempa besar," ujar Junanto Herdiawan, salah WNI yang tinggal di Tokyo, Jepang, saat dihubungi okezone, Sabtu (12/3/2011).

Dia bercerita, pemerintah pusat hingga level kelurahan sudah melatih masyarakat untuk menghadapi gempa besar ini. "Juga anak-anak di sekolah," imbuhnya.

Maka tak heran jika pemerintah sangat tanggap. Menurutnya, Pemerintah Jepang langsung membentuk task force atau unit khusus, untuk penanganan gempa. "Evakuasi dilakukan secara terstruktur," jelas Junanto.

Hal senada juga diakui oleh Nufransa Wira Sakti, yang telah mengenyam pendidikan S2 di Yokohama National University dan S3 Niigata University. Saat dihubungi okezone di Jakarta, dia dan sejumlah temannya akan menggalang bantuan. Namun, bantuan itu bukan baju, makan dan minuman, seperti halnya di Indonesia saat ada bencana. Menurutnya, bantuan sudah langsung diberikan kepada warga, sesaat setelah kejadian. "Mereka sangat profesional," akunya.

Saat ini, fokus Pemerintah Jepang adalah kondisi reaktor nuklir Jepang. Pemerintah menetapkan kondisi darurat nuklir.

Sementara itu, KBRI di Jepang juga tanggap. KBRI langsung mengadakan pertemuan pada Jumat 11 malam, dan membuka posko. "Mereka membantu WNI yang ada di Jepang," pungkas Junanto.(rhs)

Korban Gempa Tsunami Jepang Tembus 2.000 Orang


TOKYO - Korban gempa dan tsunami Jepang terus bertambah. Kepolisian Jepang mencatat, korban tewas sudah menembus angka 2.000 orang. Sebagian besar belum berhasil diidentifikasi.

Jumlah ini masih jauh di atas data resmi Pemerintah Jepang yang menyebut jumlah korban tewas sekira 800 orang.

Pihak Kepolisian Jepang seperti dikutip Kantor Berita Kyodo, Minggu (13/3/2011) menyebutkan di Prefektur Fukushima saja sudah ditemukan 1.167 mayat, sementara 600 lebih mayat ditemukan di Prefektur Miyagi dan Iwate. Wilayah-wilayah tersebut berhadapan langsung dengan laut Pasifik, lokasi titik pusat gempa 8,9 Skala Richter yang kemudian direvisi Badan Meteorologi dan Klimatologi Jepang menjadi 9,0 SR.

Sementara pemerintah lokal di masing-masing prefektur masih kesulitan mengetahui nasib puluhan ribu warganya karena kerusakan infrastruktur. Sejauh ini, sebanyak 20.820 bangunan dilaporkan rata dengan tanah dan hilang terbawa tsunami. Sementara lebih dari 300.000 orang di enam prefektur teklah dievakuasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 180.000 di antaranya merupakan warga yang tinggal dalam radius 20 kilometer dari reaktor nomor 1 nuklir di Fukushima. Akibat kebocoran radiasi, 19 orang dinyatakan telah terkontaminasi.

Sejarah Gempa Bumi Mematikan di Dunia


JAKARTA - Gempa bumi berkerkuatan 8, 9 skala ritcher (SR) mengguncang kawasan timur laut Jepang pada Jumat 11 Maret lalu. Tragedi itu seakan membuka luka lama, tentang sederet gempa bumi di dunia.

Guradian mencatat, 10 gempa berkekuatan besar yang pernah mengguncang bumi sejak tahun 1700-an. Mari kita tilik satu per satu.

1. 26 Januari 1700, Pantai Utara Pasifik yang berkekuatan 9 SR

Satu-satunya catatan gempa terbesar di Amerika Utara dating dari sejarah mulut ke mulut warga pribumi Amerika didekat pulau Vancouver yang menceritakan tersapunya sebuah komunitas besar di teluk Pachena oleh gelombang besar. Di sepanjang PAsifik, gempa itu tercatat paling akurat oleh pengamat Jepang yang menyatakan tsunami besar menerjang Negara itu pada 27 Jauniari 1700.

2. 1 November 1755, Lisbon Portugal, yang berkekuatan 8, 7 SR

Gempa yang diikuti tsunami dan kebakaran itu nyaris menghancurkan seluruh Lisbon dan menewaskan hampis seperempat warga kota itu. Gempa ini juga dirasakan hingga kawasan uatara Afrika, Prancis, dan Utara Italia.

3. 13 Agustus 1868, Arica, Peru (sekarang bagian Cile), yang berkekuatan 9 SR

Hawaii merasakan tsunami akibat gempa lembah pasifik, tapi kerusakannya tidak sebesar di Arequipa di Amerika Selatan. Kota itu hancur dan 25 ribu orang tewas. Gempa dirasakan hingga ke La Paz, di Bolivia. Tsunami setinggi 16 meter menerjang pantai dan menghempaskan sebuah kapal milik AS hingga dua mil ke daratan dan mendaratkannya disebuah tepi tebing setinggi 60 meter.

4. 15 Agustus 1950, Assam, Tibet yang berkekuatan 8, 6 SR

Sekitar 70 desa hilang dalam serangkaian bencana yang dupicu gempa buli epsentrum di Rima, Tibet. Tapi kehancuran paling besar terjadi di negara bagian Assam, India. Di seluruh penjuru kawasan itu, tanah longsor menwaskan 1.526 orang dan menyebabkan sebagian kawasan itu tidak bisa dikenali dari udara.

5. 13 Januari 1906, Pantai Ekuador, yang berkekuatan 8, 8 SR

Gempa dilepas pantai Ekuador itu menyulut tsunami yang menwaskan antara 500-1500 orang sepanjang pantai dari Amerika Tenagh hingga San FRansisco, AS. Di Hawaii, sungai tiba-tiba mengering sekitar 12 jam setelah gempa pertama kemudian airnya naik lagi setelah gelombang besar membanjiri pantai.

6. 4 November 1952, Kamchatka, Rusia, yang berkekuatan 9 SR

Semenanjung vulkanik Rusia berada di dekat episentrum gempa. Tapi, Kepualan Hawaii-lah yang merasakan tsunami yang menyebabkan kerugian jutaan dolar. Tidak ada korban jiwa yang tercatat, meskipun seorang petani Oahu mengaku kehilangan enam ekor sapinya.

7. 22 Mei 1960, Cile, yang berkekuatan 9, 5 SR

Gempa terkuat yang pernah menggunacang bumi ini menyebabkan 4.485 orang tewas dan luka-luka setelah mengguncang kawasan selatan Cile pada 1960.
Tsunami yang mengikuti gempa ini kemudian menewaskan 170 orang setelah gelombang setinggi lima meter menerjang pantai Jepang dan Filipina.
Sehari kemudian gunung berapi Volca Puyehue memuntahkan 6 ribu debu vulkanik ke angkasa dalam erupsi yang berlangsung selama beberapa pekan.

8. 28 Maret 1964, Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat, yang berkekuatan 9, 2 SR

Teluk Alaska hancur setelah gempa di Prince William Sound menyebabkan tanah longsor di Anchorage dan menimbun sebagian pulau itu hingga setinggi 11 meter. Tsunami yang mengikutinya mencapai ketinggian 67 meter dan menyapu kawasan Valdez serta menyebakan 128 orang tewas.

9. 26 Desember 2004, Pantai Barat Sumatera Utara, yang berkekuatan 9,1 SR.

Tsunami termaut di dunia ini dirasakan di 14 negara di seluruh Asia dan Afrika Timur yang dipicu, ”mega diringan” di mana lempeng tektonik India ditekan paksa oleh lempeng Burma. Indonesia adalah kawasan yang terkena dampak terburuk dengan korban mencapai 170 ribu orang dari total 230 ribu jiwa. Dengan banyaknya mayat korban yang tidak ditemukan. Penghitungan jumlah korban memakan waktu sebulan.

10. 27 Februari 2010, Cile, yang berkekuatan 8,5 SR

Kawasan di sekitar Conception dicatat sebagai pusat getaran seismic sejak abad ke-16, tapi hanya sedikit yang menghancurkan seperti gempa yang menyebabkan tsunami dan menewaskan 521 orang pada tahun lalu itu. Dengan 12 ribu orang luka-luka dan lebih dari 800 ribu kehilangan tempat tinggal, Cile berusaha pulih dari bencana itu. (Diolah dari berbagai sumber)(rhs)

Saturday, March 12, 2011

Foto dan Video Gempa Bumi di Jepang

Gempa Bumi di Jepang Skala 8,9 SR, Inilah gempa bumi salah satu gempa terbesar dalam 20 tahun terakhir. Gempa berkekuatan 8,9 yang terjadi di Jepang, Jumat (11/3/2011) siang, tercatat sebagai gempa terbesar sepanjang sejarah yang pernah terjadi di Negeri Sakura itu. Sepanjang catatan kegempaan di Jepang, belum pernah terjadi gempa sekuat itu.

Gempa paling mematikan di Jepang tercatat terjadi pada 1891. Gempa yang berpusat di Kanto itu hanya berkekuatan 7,9, tapi menewaskan sekitar 140.000 orang di wilayah sekitar Tokyo. Dengan kekuatan sebesar 8,9, gempa terakhir tersebut jauh lebih kuat ketimbang gempa di Kanto, namun tidak terlalu besar dampaknya bagi Kota Tokyo.

"Kami memperkirakan jatuh banyak korban dan kerusakan yang meluas," kata Kevin McCue, seismolog di Central Queensland University di Canberra, Australia, seperti dilansir situs web ABC, Jumat. Namun, jumlah korban di Tokyo diperkirakan tidak sebanyak di Kanto 120 tahun lalu karena pusat gempa saat ini jauh di utara, sekitar 376 km dari Tokyo.
Untuk melihat video klik disini

Jepang yang terletak di jalur gunung api atau Cincin Api Pasifik memang termasuk wilayah yang sering terlanda gempa. Beberapa data gempa besar di Jepang yang terekam adalah gempa berkekuatan 8,5 di Sanriku pada tahun 1896 yang menewaskan 27.000 orang dan menyebabkan tsunami setinggi 25 meter. Selain itu adalah gempa Kobe yang terjadi pada tahun 1995 berkekuatan 6,9 skala richter dan menewaskan 5.502 orang.

Gempa Jepang hari ini berkekuatan 8,9 skala richter. Gempa terjadi pada pukul 14.46 waktu setempat dan berpusat di 376 km tenggara Tokyo. Gempa ini telah mengakibatkan tsunami setinggi 4 meter dan berpotensi tsunami hingga 10 meter. Peringatan tsunami diperluas hingga Pasifik, Filipina, dan Indonesia.

Co-Director Australia Tsunami Research Center Professor James Goff mengatakan, gempa yang terjadi kali ini akan mampu melihat kekuatan bangunan tahan gempa Jepang, keampuhan perangkat peringatan tsunami, serta rencana evakuasi. "Peristiwa ini akan menjadi serangkaian tes untuk mereka semua," katanya. kompas.com

Gempa bumi Dasyat melanda Jepang



Jepang dilanda gempa bumi berkekuatan 8,8 skala Richter di lepas pantai timur laut Jumat (11/3) pukul 14.46, yang memicu tsunami setinggi 10 meter. Gelombang tsunami itu menghanyutkan mobil dan merobek bangunan di sepanjang pantai di dekat pusat gempa. Dalam video tampak puluhan mobil, truck, kontainer dan kapal tersapu gelombang tsunami.

Thursday, March 10, 2011

Gempa di indonesia

JAKARTA – Hampir setiap saat masyarakat Indonesia dikagetkan dengan gempa bumi. Bahkan, getaran yang terjadi selama ini terbilang cukup tinggi mengingat Indonesia dikenal dengan kawasan rawan gempa.

Dari angka statistik yang dimiliki Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan bantuan Sosial yang diketuai Andi Arief, secara mengejutkan jika bencana gempa ternyata kerap menyambangi Ibu Pertiwi, bahkan dengan kekuatan cukup besar.

Berikut statistik peristiwa gempa beserta kekuatannya di Indonesia yang diperoleh okezone dari Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Sabtu (29/5/2010).

8 September 2009 di Sumbawa (6,6 SR)

24 Oktober 2009 di Laut Banda (6,9 SR)

7 Oktober 2009 di laut Sulawesi (6.8 SR)

1 Oktober 2009 di Sumatra Selatan (6,6 SR)

30 September 2009 di Sumatra Selatan (7,5 SR)

2 September 2009 di Jawa (7 SR)

28 Agustus 2009 di Laut Banda (6,9 SR)

16 Agustus 2009 di Kepulauan Mentawai (6,7 SR)

10 Agustus 2009 di Pulau Andaman (7,5 SR)

11 Februari 2009 di Kepulauan Talaud (7,2 SR)

3 Januari 2009 di Papua (7,4 SR)

3 Januari 2009 di Papua (7,7 SR)

16 September 2008 di Minahasa, Sulawesi (7,4 SR)

25 Februari 2008 di Kepulauan Mentawai (7,2 SR)

20 Februari 2008 di Simeulue (7,4 SR)

25 November 2007 di Sumbawa (6,5 SR)

24 Oktober 2007 di Sumatra Selatan (6,8 SR)

20 September 2007 di Sumatra Selatan (6,7 SR)

12 September 2007 di Kepulauan Mentawai (7,9 SR)

12 September 2007 di Sumatra Selatan (8,5 SR)

8 Agustus 2007 di Jawa (7,5 SR)

26 Juli 2007 di Selat Malaka (6,9 SR)

6 Maret 2007 di Sumatra Selatan (6,4 SR)

21 Januari 2007 di Laut Malaka (7,5)

17 Juli 2006 di Selatan Jawa (7,7 SR)

26 Mei 2006 di Jawa (6,3 SR)

16 Mei 2006 di Nias (6,8 SR)

14 Maret 2006 di Seram (6,7 SR)

27 Januari 2006 di Laut Banda (7,6 SR)

19 November 2005 di Simeulue (6,5 SR)

24 Juli 2005 di Pulau Nicobar (7,2 SR)

5 Juli 2005 di Pulau Nias (6,7 SR)

19 Mei 2005 di Pulau Nias (6,9 SR)

14 Mei 2005 di Pulau Nias (6,7 SR)

10 April 2005 di Kepulauan Mentawai (6,7 SR)

28 Maret 2005 di Sumatra Utara (8,6 SR)

2 Maret 2005 di Laut Banda (7,1 SR)

26 Februari 2005 di Simeulue (6,8 SR)

19 Februari 2005 di Sulawesi (6,5 SR)

5 Februari 2005 di Laut Sulawesi (7,1 SR)

26 Desember 2004 di Pulau Sumatra (9,1 SR)

26 September 2004 di Papua (7,1 SR)

11 November 2004 di Kepulauan Alor (7,5 SR)

25 Juli 2004 di Sumatra Selatan (7,3 SR)

7 Februari 2004 di Irian Jaya (7,3 SR)

5 Februari 2004 di Irian Jaya (7 SR)

28 januari 2004 di Seram (6,7 SR)

26 Mei 2003 di Halmahera (7 SR)

2 November 2002 di Sumatera Utara (7,4 SR)

10 Oktober 2002 di Irian Jaya (7,6 SR)

4 Juni 2000 di Sumatera Selatan (7,9 SR)

12 Desember 1992 di Flores (7,8 SR)

25 Juni 1976 di Papua (7,1 SR)

1 Februari 1938 di Laut Banda (8,5 SR)

“Data ini penting untuk diketahui masyarakat agar tahu tentang gempa yang pernah terjadi. Ini juga menjadi bentuk tanggung jawab negara kepada rakyatnya dalam bentung mengamankan dari bencana,” ujar Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Sangap Surbakti, dalam rilisnya.